Adakan Kerjasama dengan Yayasan Al Muslim, Dekan FKM Ajak Orangtua Perhatikan Kesehatan Jiwa Anak

FKM News – Sesuai dengan adanya Tri Dharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, Sabtu (16/3) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga melakukan Penandatanganan MoA dengan Yayasan Al-Muslim. Dekan FKM UNAIR, Prof. Dr. Tri Martiana. dr., MS., yang akrab disapa Prof. Tri hadir untuk menandatangani kesepakatan kerjasama yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, khususnya meningkatkan kemampuan di bidang kesehatan masyarakat.

Ustadz Achmad Fadhil Awaludin, SE., MM, kepala bidang non akademik Yayasan Al Muslim membuka acara dengan memberikan sambutan. Beliau mengatakan bahwa saat ini sedang era kolaborasi. “Tujuan dari perjanjian ini karena sekolah butuh masukan dan pengembangan sehingga perlu bekerjasama dengan kampus, supaya dapat mencetak pemimpin yang berkualitas, dan mengetahui habits apa yang harus diperbaiki”, terang Ustadz Fadhil.

Acara ini bukan hanya penandatanganan MoA, namun dilanjutkan dengan Dialog Interaktif berjudul “Jiwa Sehat Keluarga Cerdas” yang disampaikan langsung oleh Prof.Tri.
Aula Yayasan Al-Muslim yang berlokasi di Jalan Wadung Asri penuh dengan kehadiran dan antusias orangtua mulai dari jenjang SD hingga SMA. Kebetulan hari itu juga bertepatan dengan pengambilan rapor sisipan siswa, sehingga moment tersebut pas untuk diwali dengan memberikan materi parenting.

Prof. Tri menjelaskan bahwa status kesehatan jiwa dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu faktor genetik dari orang tua, pelayanan kesehatan, perilaku, dan faktor lingkungan. “Keluarga harus bisa merangkul erat untuk mendidik anaknya”, jelas Prof. Tri.

Prof. Tri menjadi narasumber dialog interaktif tentang kesehatan jiwa anak

Suasana begitu interaktif, Prof. Tri meminta beberapa Ibu untuk maju menceritakan kondisi anaknya di rumah. Ada seorang ibu yang menceritakan bahwa anaknya susah jika diminta untuk sholat. Faktor lingkungan seperti teman sepermainan sangat mempengaruhi, terutama pengaruh gadget yaitu game. Prof. Tri mengatakan, “Kalau anak tidak mau disuruh, jangan dipaksa. Didik dengan lembut. Usahakan untuk tidak memarahi anak.”

Prof. Tri juga memaparkan tentang kriteria Keluarga cerdas, yaitu cerdas secara intelektual (dilihat dari nilai rapor), emosional, spiritual, dan sosial (silaturahmi dengan keluarga). Orang tua harus bisa menurunkan dan memberi contoh pada putra/putrinya.

Menjelang akhir materi, Prof. Tri meminta 2 orang Bapak untuk maju ke depan menceritakan tentang contoh solusi yang diterapkan pada anak atas permasalahan kesehatan jiwa. Pak Farhan, orangtua siswa SMP mengaku bahwa ia tidak merokok untuk memberi contoh pada anaknya. Ia juga memberikan jadwal jam bebas gadget. “Kadang ketika ia tidur, saya ambil HP-nya untuk mengecek apa saja yang ia buka”, ungkapnya.

Menurut Ustadz Fadhil, kesehatan jiwa siswa/siswi di sekolah Al-Muslim sudah baik. Sehingga perlu untuk terus memonitoring dan memotivasi orang tua. “Nantinya 3-4 kali setahun akan diadakan dialog interaktif parenting seperti ini dengan berbagai narasumber”, pungkas Ustadz Fadhil.

Penulis: Zulfia Husnia

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: