Bakti Sosial Prodi Ilmu Gizi, FKM, Unair dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional ke-56 tahun 2016

report bakti sosialDalam rangka peringatan Hari Gizi Nasional ke-56 pada tahun 2016 ini, Program Studi Ilmu Gizi bersama dengan Asosiasi Mahasiswa Gizi (Amazi) FKM Unair mengadakan bakti sosial dengan tema “Bersama Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi: Percepatan Perbaikan Gizi 1000 HPK”. Bakti sosial ini dilaksanakan pada tanggal 12 Februari 2016 di Posyandu Mulyorejo, Surabaya, Jawa Timur. Bakti sosial ini meliputi kegiatan:

  1. Penyuluhan MP-ASI dan pembagian resep MP-ASI
  2. Pemberian contoh MP-ASI
  3. Pemeriksaan kesehatan ibu (berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas, dan tekanan darah)
  4. Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan anak balita (pengukuran berat badan, tinggi badan, dan pengukuran perkembangan anak balita)
  5. Pemeriksaan kesehatan dan pemberian obat gratis untuk balita.

Pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan secara rutin perlu dilakukan sebagai salah satu cara deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang anak balita. Kewaspadaan ibu yang meningkat terhadap ketidaksesuaian tumbuh kembang anak diharapkan dapat menurunkan angka gizi kurang secara berkesinambungan. Selain deteksi dini pertumbuhan dan perkembangan anak, pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan ibu dalam memberikan makanan dan gizi terbaik bagi anaknya menjadi sangat penting untuk dimiliki. Oleh karena itu, upaya peningkatan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan perlu ditingkatkan untuk mendukung upaya perbaikan gizi balita pada masa sekarang dan masa yang akan datang.

Peringatan HGN merupakan momentum yang tepat untuk meningkatkan partisipasi akademisi dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia. Gizi adalah salah satu input penting untuk menentukan kualitas sumber daya manusia. Salah satu indikator untuk melihat kualitas gizi pada anak-anak adalah tinggi badan menurut umur. Berdasarkan Riskedas 2013, prevalensi stunting balita sebesar 37.2%. Prevalensi ini meningkat sebanyak 1.6% dibandingkan Riskesdas 2010. Upaya yang dilakukan untuk mengurangi masalah stunting ini salah satunya adalah melalui intervensi pada 1000 HPK. Seribu hari pertama kehidupan terdiri dari 270 hari selama kehamilan dan 730 hari pada 2 tahun pertama kehidupan. Masa ini merupakan masa emas pertumbuhan dan perkembangan balita sehingga disebut sebagai periode emas atau window of opportunity.

Hampir 70% pertumbuhan sel otak terjadi pada saat hamil hingga usia 2 tahun. Ketika otak gagal tumbuh, jumlah sel otak, neuron, dan dendrit berkurang. Menurut tingkat keparahan, anak lelaki usia 3 tahun dengan stunting berat memiliki kemampuan membaca 15 poin lebih rendah pada usia sekolah dibandingkan dengan anak stunting ringan. Hal ini menyebabkan prestasi belajar menjadi buruk. Anak-anak pendek sulit mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal dari segi fisik dan psikomotor yang sangat terkait dengan kemampuan intelektual dan produktivitas. Oleh sebab itu, pemenuhan gizi pada 1000 HPK menjadi sangat penting sebab, jika tidak terpenuhi akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan balita secara sementara atau bahkan permanen.

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: