Home / Berita / Benarkah Masker Scuba Tidak Efektif Menangkal Covid-19?

Benarkah Masker Scuba Tidak Efektif Menangkal Covid-19?

FKM NEWS – Sampai saat ini angka penderita Covid-19 masih terus meningkat di berbagai negera, tidak terkecuali di Indonesia. Kini sudah enam bulan lebih  sejak diumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia, yakni pada tanggal 2 Maret 2020. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk memutus rantai pesebaran Covid-19 mulai dari membuat kebijakan PSBB hingga melakukan adaptasi baru (new normal). Adaptasi baru yang dimaksud ialah dengan menerapkan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, menjaga jarak dan memakai masker.

Memakai masker merupakan cara yang paling efektif dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Sebab, Covid-19 menyebar secara cepat melalui percikan droplet baik saat bersin maupun batuk. Oleh karena itu, memakai masker adalah salah satu langkah efektif untuk menahan percikan tersebut menyebar, terlebih masih ada Orang Tanpa Gejala (OTG) disekitar masyarakat yang belum melakukan isolasi dengan baik.

Dilansir dari artikel Kemenkes RI yang terbit 24 Juni 2020 berjudul Jubir COVID-19 : Jika Semua Pakai Masker, Potensi Penularan Hanya 1,5%, dikatakan bahwa tingkat risiko penularan COVID-19 akan semakin menurun apabila seseorang memakai masker. Ia pun membaginya ke dalam empat tingkatan:

  1. Pertama, apabila seseorang yang membawa virus (OTG) tidak menggunakan masker dan melakukan kontak dekat dengan orang rentan maka kemungkinan penularan mencapai 100 %.
  2. Kedua, orang yang sakit pakai masker, sementara kelompok rentan tidak memakai masker maka potensi penularan mencapai 70%,
  3. Ketiga, orang sakit pakai masker, sementara orang sehat tidak pakai masker maka tingkat penularannya hanya 5 %
  4. Keempat, jika keduanya pakai masker, maka potensi penularan hanya 1,5%.

Namun baru-baru ini santer sekali terdengar kabar larangan bagi masyarakat untuk memakai masker Scuba. Seperti yang diketahui masker Scuba memang menjadi masker yang paling digemari di masyarakat. Karena selain dapat dicuci berulang kali, masker Scuba menjanjikan tampilan yang fashionable dengan harga yang relatif murah. Masker Scuba disinyalir tidak efektif dalam mencegah penularan covid-19 karena terbuat dari bahan scuba atau kain yang dapat melar seperti kain spandeks. Dilansir pada detik.com bahwa kriteria kain yang digunakan sebagai masker haruslah memiliki setidaknya 2 lapisan. Sedangkan masker Scuba sendiri hanya memiliki satu lapisan kain.

Itulah alasan mengapa penggunaan masker Scuba tidak direkomendasikan. Selain itu, dikatakan pula bahwa masker Scuba memiliki pori-pori yang sangat lebar, sehingga memudahkan droplet si pemilik masker untuk keluar melayang di udara. Juga masker Scuba membuat droplet yang keluar menjadi lebih kecil. Selain itu, kemampuan filtrasi dari masker scuba juga sangat rendah sehingga dikhawatirkan tidak mampu memberikan proteksi yang layak kepada pengguna, tingkat keefektivitasan masker Scuba juga rendah yakni hanya 0%-5% saja.

Adapun untuk masker yang di rekomendasikan oleh Kemenkes yang di nilai baik dalam pencegahan penularan Covid-19 antarai lain :

  1. Masker N95

Masker jenis ini memiliki face seal fit yang ketat sehingga mendukung pemakai terhindar dar paparan aerosol asalkan seal fit dipastikan terpasang dengan benar. Idealnya masker N95 tidak untuk digunakan kembali, namun dengan stok N95 yang sedikit, dapat dipakai ulang dengan catatan semakin sering dipakai ulang, kemampuan filtrasi akan menurun. Jika akan menggunakan metode pemakaian kembali, masker N95 perlu dilapisi masker bedah pada bagian luarnya.Masker tidak dapat digunakan kembali jika pengguna masker N95 sudah melakukan tindakan yang menimbulkan aerosol.

  1. Masker Bedah 3 Ply (Surgical Mask 3 Ply)

Masker Bedah memiliki 3 lapisan (layers) yaitu lapisan luar kain tanpa anyaman kedap air, lapisan dalam yang merupakan lapisan filter densitas tinggi dan lapisan dalam yang menempel langsung dengan kulit yang berfungsi sebagai penyerap cairan berukuran besar yang keluar dari pemakai ketika batuk maupun bersin. Dengan begitu, masker ini direkomendasikan untuk masyarakat yang menunjukan gejala-gejala flu / influenza (batuk, bersin-bersin, hidung berair, demam, nyeri tenggorokan) dan untuk tenaga medis di fasilitas layanan kesehatan.

  1. Masker Kain

Masker kain dapat digunakan untuk mencegah penularan dan mengantisipasi kelangkaan masker yang terjadi. Efektivitas penyaringan pada masker kain meningkat seiring dengan jumlah lapisan dan kerapatan tenun kain yang dipakai. Kemenkes menjelaskan untuk masker kain setidaknya terdapat dua lapis kain. Masker perlu dicuci dan dapat dipakai berkali-kali. Bahan yang digunakan untuk masker kain berupa bahan kain katun, scarf, dan sebagainya.

 

Penulis: M.Dicky Alfarizi (awarde beasiswa Bank Muamalat)

Editor: Tunjung Senja Widuri

 

 

About tunjungsenjawiduri

Lihat juga

Daftar Nama Mahasiswa yang di Yudisium periode Oktober 2020

Pada Tanggal 5 Oktober 2020, dilaksanakan Rapat Yudisium periode Oktober 2020. Berikut merupakan nama-nama mahasiswa …

%d blogger menyukai ini: