Cegah Gizi Buruk pada Remaja, Dosen Gizi FKM UNAIR Bahas Mitos dan Fakta Seputar Gizi

FKM NEWS – Indonesia merupakan salah satu negara dengan angka stunting yang cukup tinggi, yaitu masuk dalam top five, negara dengan prevalensi anak pendek tertinggi di seluruh dunia nomor lima. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) bahwa prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai hingga 30,8 persen, dan Indonesia merupakan negara tetinggi kedua dengan beban stunting di Kawasan Asia Tenggara.

Osis SMA Al Muslim Jawa Timur pada Sabtu (27/02/2021) kemarin menyelenggarakan Webinar Hari Gizi dengan tema “Gizi Berkualitas untuk Bangsa yang Cerdas” melalui platform Zoom dan live streaming Youtube.

Qonita Rachmah, S.Gz., M.Sc (Dosen Departemen Gizi FKM UNAIR) sebagai narasumber menjelaskan bahwa pada hari gizi nasional di tahun 2021 ini akan lebih berfokus pada gizi remaja. Karena remaja merupakan salah satu cikal bakal sehingga harus di intervensi sejak dini, agar ketika dewasa nanti memiliki status gizi yang baik utamanya pada remaja perempuan, sehingga nantinya diharapkan dapat melahirkan bayi atau penerus bangsa yang berkualitas.

Golden Period atau masa emas dalam siklus manusia itu terjadi dua kali. Yang pertama yaitu di 1000 hari pertama kehidupan (HPK), dari mulai konsepsi nol minggu kehamilan sampai bayi berusia dua tahun. Yang kedua yaitu terjadi pada masa remaja, dimana pada fase remaja ini terjadi pertumbuhan yang sangat cepat atau weight velocity,” tambahnya.

Selanjutnya, beliau juga memaparkan mengenai mitos dan fakta seputar gizi. Pertama yaitu mitos dan fakta mengenai nasi dingin lebih baik daripada nasi panas. Dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) itu menyampaikan bahwa hal tersebut mitos, namun sebenarnya bisa menjadi fakta karena nasi dingin memiliki indeks glikemik lebih rendah, tetapi dengan syarat nasi tersebut harus disimpan di kulkas  dengan suhu empat derajat celsius.

Pada akhir, Qonita Rachmah menjelaskan mengenai bagaimana gizi menjaga daya sistem imun manusia. Beliau menggunakan pertandingan sepak bola sebagai perumpamaan

“Zat gizi itu berperan sebagai pemain sepak bola, jika ingin mempunyai pemain yang handal maka yang dikonsumsi harus diperhatikan. Jika tidak memperhatikan keseimbangan yang sesuai dengan piring makanku, maka akan ada beberapa pemain yang hilang dan pertahanan akan melemah,” pungkasnya.

Penulis: Ulfa Lailatus Sa’adah

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: