Efektivitas Fortifikasi Pangan dalam Meningkatkan Status Gizi Ibu dan Anak di Indonesia

Program khusus meliputi intervensi jangka pendek yang hasilnya dapat dicatat dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan kegiatan yang dilakukan oleh sektor kesehatan, sedangkan program sensitif adalah intervensi jangka panjang berupa kegiatan yang sebagian besar bersifat makro dan dilakukan lintas lembaga. Program fortifikasi pangan merupakan contoh program sensitif yang dilakukan di beberapa negara. Program fortifikasi pangan telah dilakukan di beberapa negara untuk mengatasi defisiensi mikronutrien dan masalah terkait dengan berbagai derajat efektivitas. Program fortifikasi pangan yang dilakukan di seluruh dunia meliputi fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng, margarin, dan gula; vitamin D dalam susu dan margarin; asam folat dalam tepung; yodium dalam garam; zat besi dalam susu, tepung jagung, kacang-kacangan, millet mutiara, dan tepung terigu. Di Indonesia intervensi fortifikasi yang paling kritis adalah fortifikasi yodium dalam garam dan besi fortifikasi tepung terigu, sedangkan fortifikasi vitamin A dalam minyak goreng bersifat opsional, namun sekarang wajib dilakukan sejak tahun 2020.

Informasi yang tersedia mengenai keberhasilan program fortifikasi pangan di beberapa negara berkembang, termasuk Indonesia, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini melakukan tinjauan sistematis terhadap efek fortifikasi makanan ibu dan anak menggunakan pengukuran biokimia dan antropometri yang berfokus pada pertumbuhan linier. Tiga database digunakan dalam pencarian literatur, yaitu PubMed, Science Direct dan Google Scholar. Lima belas artikel dimasukkan untuk analisis dari 517 studi yang ditemukan terdiri dari artikel berbahasa Indonesia dan Inggris yang diterbitkan dari tahun 2000 hingga Juni 2020.

Bahan makanan yang diperkaya antara lain minyak, permen, biskuit, bihun, mi instan, susu, beras, garam, telur, dan makanan bayi. Parameter penelitian antropometri adalah berat badan, berat lahir, berat badan menurut umur, berat badan menurut panjang badan, tinggi atau panjang badan menurut berat badan, dan tinggi lutut. Pengukuran status nutrisi biokimia meliputi kadar albumin, retinol serum, hemoglobin, hematokrit, serum ferritin, dan ekskresi yodium urin (UIE). Durasi intervensi atau lamanya studi bervariasi dari 10 hari hingga 1 tahun.

Fortifikasi makanan efektif dalam meningkatkan kadar hemoglobin dan serum feritin serta menurunkan prevalensi anemia pada bayi, anak, dan balita. Pada ibu hamil, fortifikasi zat besi dapat menurunkan risiko kelahiran prematur dan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Di Indonesia, fortifikasi besi tepung terigu menjadi wajib mulai tahun 2001, sedangkan beras fortifikasi besi mulai digalakkan oleh BULOG pada tahun 2019. Dosis fortifikasi tepung yang diperlukan menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia paling sedikit 50 mg / kg besi bersama minimal 30 mg / kg seng, 2,5 mg / kg tiamin, 4 mg / kg riboflavin, dan 2 mg / kg asam folat.

Bentuk fortifikasi pangan lain yang ditemukan di Indonesia berdasarkan hasil review kami adalah perbaikan nutrisi pada minyak goreng melalui fortifikasi vitamin A. Efektivitas fortifikasi vitamin A dalam meningkatkan status vitamin A di Indonesia dievaluasi dalam dua penelitian. Studi evaluasi penggunaan minyak goreng fortifikasi di Kota Makassar Sulawesi Selatan selama 3 bulan tidak menunjukkan adanya perubahan serum retinol pada kelompok intervensi. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi (26,6%) defisiensi vitamin A lebih rendah pada anak yang mengonsumsi minyak fortifikasi selama ≥12 minggu dibandingkan pada anak yang mengonsumsi minyak fortifikasi kurang dari 12 minggu (42%). Sebuah penelitian yang melibatkan bayi, anak perempuan, dan ibu menyusui di Jawa Barat selama 1 tahun dengan dosis retinol 13,6 mg / kg food vehicle menunjukkan bahwa minyak goreng yang diperkaya vitamin A secara signifikan meningkatkan serum retinol. Durasi konsumsi minyak yang difortifikasi semakin lama mempengaruhi penyimpanan vitamin A dalam tubuh, sehingga meningkatkan status vitamin A. Hasil positif juga ditemukan di beberapa negara mengenai efek fortifikasi makanan dengan vitamin A dalam meningkatkan kadar retinol serum.

Fortifikasi zat besi dan vitamin A, dapat meningkatkan kadar hemoglobin, serum ferritin, dan serum retinol terutama pada balita dan anak sekolah. Namun, intervensi fortifikasi multi-nutrisi dikaitkan dengan berbagai efek pada hemoglobin, serum ferritin, dan serum retinol tetapi hubungan positif ditemukan dengan indikator pertumbuhan linier dalam bentuk panjang tubuh terhadap usia. Efektivitas fortifikasi pangan dalam menurunkan prevalensi stunting masih memerlukan bukti yang lebih banyak dan lebih kuat melalui penelitian dengan jumlah sampel yang besar dan durasi yang lebih lama.

Penulis: Trias Mahmudiono, SKM., MPH., GCAS., Ph.D

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di:

Mutiara Vidianinggar, Trias. Mahmudiono, and Dominikus Atmaka (2021). Fad Diets, Body Image, Nutritional Status, and Nutritional Adequacy of Female Models in Malang City. Journal of Nutrition and Metabolismhttps://doi.org/10.1155/2021/8868450

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: