Hari Kusta Sedunia : Mengenal Kusta, Hapus Stigma dan Diskriminasi

FKM NEWS – Setiap minggu terakhir di bulan Januari ditetapkan sebagai peringatan Hari Kusta Sedunia, dengan salah satu tujuannya adalah mengubah pandangan masyarakat terhadap penderita penyakit kusta. 

Penderita kusta layak diberikan perhatian masyarakat karena menurut data World Health Organisation (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI angka kusta di Indonesia menduduki urutan ke-3 dunia. Indonesia belum dinyatakan sebagai negara bebas kusta karena angka kasus kusta belum mencapai target kurang dari 1 orang per 10.000 penduduk.

Kusta termasuk penyakit kulit yang tersebar diberbagai belahan dunia, dan menjadi penyakit endemik di beberapa negara. Penyakit kusta sudah ada sejak ribuan tahun sebelum masehi, menurut Kementerian Kesehatan RI hal tersebut diketahui dari peninggalan sejarah di Mesir, di India 1400 SM, di Tiongkok 600 SM dan Mesotomia 400 tahun SM dimana pada masa purba tersebut telah terjadi pengasingan pada penderita kusta. 

Istilah kusta sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu kustha ( kumpulan gejala-gejala kulit secara umum). Kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae (M.leprae). Agen penyebab kusta ini ditemukan oleh seorang ilmuwan Norwegia yaitu Gerhard Henrik Armauer Hansen pada 28 Februari 1873. Sehingga penyakit kusta ini disebut juga penyakit Morbus Hansen. beberapa nama lain dari penyakit kusta ini yaitu Lepra, Hanseniasis, Elephantiasis, Melaats, dan lain-lain. 

Persepsi yang perlu diluruskan yaitu kusta bukan penyakit turunan ataupun kutukan melainkan penyakit yang dapat meluar jika terkena percikan droplet pada frekuensi yang lama, kontak langsung kulit dengan kulit  secara langsung yang erat, lama dan berulang. Menurut Prof. Dr. Muh. Dali Amiruddin, dr. Sp.KK (K) dalam bukunya menjelaskan kusta dapat menyerang susunan saraf tepi, kemudian menyerang kulit, mukosa, saluran napas, saluran retikuloendotelial, mata, otot, tulang, dan testis.

Jelas Prof. Dr. Muh. Dali Amiruddin lebih detail bahwa penularan dan perkambangan penyakit kusta bergantung pada jumlah atau virulensi M.leprae dan daya tahan tubuh manusia. Disamping itu ada faktor-faktor pendukung lainnya yaitu usia dimana anak-anak lebih rentan untuk tertular penyakit, jenis kelamin, ras, kesadaran sosial, dan lingkungan.

Alternatif pemutus mata rantai penularan kusta adalah dengan pengobatan yang tepat. Pengobatan dapat melalui MDT (Multi Drug Treatment) pada penderita kusta secara teratur dan vaksinasi BCG yang disedikan gratis oleh pemerintah di pelayanan kesehatan.

Stigma dan diskriminasi di masyarakat kepada penderita kusta berpengaruh terhadap pengobatan kusta. Adanya pandangan negatif terhadap penderita kusta membuat seseorang yang terkena kusta enggan untuk berobat karena takut diketahui dan dijauhi masyarakat. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari perlakukan diskriminasi juga terjadi seperi saat mencari pekerjaan, beribadah, menggunakan kendaraan umum dan lain lain. Tak jarang perlakuan negtaif tersebut membuat penderita kusta mengalami tekanan psikis.

Hal yang penting untuk mendukung program pemerintah mengeliminasi kusta yaitu dukungan dan perhatian keluarga dan masyarakat terhadap penderita kusta. 

Sumber : 

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Hapuskan Stigma dan Diskriminasi terhadap Kusta

Amirudin, Muhammad Dali. Penyakit Kusta: Sebuah Pendekatan Klinis. Firstbox Media

Penulis: Arira Celia Virta Parawansa

About the author

Kontributor FKM NEWS
EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: