Menengok Kebiasaan Masyarakat Jepang dan Indonesia dalam Menyikapi New Normal

FKM NEWS-New Normal adalah hal yang banyak diperbincangkan masyarakat akhir-akhir ini. Sekarang Indonesia juga sedang bertahap untuk memberlakukan tatanan normal atau new normal.

New normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan tambahan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan penyakit atau Covid-19. Atau singkatnya membahas mengenai kebudayaan dan kebiasaan.

Sejalan dengan tersebut Dr. Muhammad Atoillah Isfandiari (dosen FKM Universitas Airlangga) dan Gochi Sachiko, Ph. D (Tokyo University of Foreign Studies) berkolaborasi dalam webinar yang bertema “Menuju Transisi New Normal: Peran Pemerintah dan Sikap Masyarakat Jepang dan Indonesia dalam Pandemi Covid-19” yang dilakukan pada Selasa (10/07/2020).

Menurut Gochi Sa panggilan akrabnya “masyarakat Jepang memiliki konsep hidup bahwa “baikan” penyebutan masyarakat jepang untuk kuman dari luar tidak boleh dibawa masuk kedalam rumah”.

Goch Sa menjelaskan lebih lanjut konsep hidup tersebut membentuk kebiasaan masyarakat jepang selalu melepas sepatu sebelum masuk kedalam rumah, memakai masker ketika keluar rumah, selalu mencuci tangan dan berkumur dengan air untuk menghilangkan “baikan”, mencuci tangan sebelum makan walaupun makan menggunakan sumpit karena orang jepang meskipun sudah mencuci tangan namun belum yakin bahwa tangannya benar-benar bersih. Hal ini menjadi salah satu faktor rasio kematian di Jepang lebih rendah dari rata-rata.

Kebiasaan higienitas masyarakat jepang bukan secara tiba tiba ada, hal ini dimulai sekitar 100 tahun yang lalu ketikan pada masa itu terdapat penyakit colera, flu spanyol, dan adanya revolusi indusri sehingga pemerintah jepang mulai mengajarkan pola hidup bersih dan sehat. Kebiasan tersebut mudah diadaptasi masyarakat jepang karena pemerintah atau raja pada masa itu tegas dan disiplin mengubah pola hidup sehat serta masyarakat juga sangat patuh terhadap aturan yang diberlakukan.

Goch Sa mengaskan bahwa kunci keberhasilan konsep higienitas dimasyarakat yaitu dibangun secara sosial dan rasa persatuan masyarakat serta diperkuat dengan aturan dari pemerintah.

Gelombang kedua Covid-19 di Jepang diprediksi akan banyak terjadi pada usia 20an keatas. Sedangkan di Indonesia menurut Dr. Muhammad Atoillah Isfandiari atau akrab panggil pak ato’ ahli epidemiologi sekaligus dosen FKM Unair  gelombang satu Covid-19 di Indonesia saja masih belum selesai karena belum ada penurunan angka kejadian Covid-19 yang signifikan.

“Tingkat kepatuhan masyarakat masih rendah, ada masyarakat yang sudah mengetahui tetapi belum benar penerapannya seperti terdapat masayarkat yang sudah memakai face hield keluar rumah tapi terbalik” Ujar Pak Ato’

Pak Ato’ menjelaskan lebih lanjut alasan angka kejadian Covid-19 di Indonesia terus bertambah dan kebiasaan hidup bersih dan sehat masih belum diterapkan karena ada kesenjangan antara kebijakan dari pemerintah dan pelaksanaannya dimasyarakat.

Covid-19 70% kejadiannya pre hospital artinya bahwa masyarakat memiliki peran besar dalam mengatur persebaran Covid-19, sangat perlu adanya pencegahan dan pembatasan serta masyarakat tidak dijadikan objek new normal namun herus menjadi subjek new normal dengan itu masyarakat akan memiliki kesadaran tersendiri untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat.

Gochi Sa dan Pak Ato’ diakhir sesi menekankan “New normal dan pengendalian Covid-19 dapat berhasil bukan hanya dengan melakukan pendekatan sektor kesehatan, ekonomi, dan politik tetapi penting juga melakukan pendekatan antropologi dan budaya.”

Penulis: Arira Celia Virta Parawansa

Editor: Tunjung Senja Widuri

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: