PERINGATI HARI TANPA TEMBAKAU SEDUNIA, FKM UNAIR GELAR WORKSHOP DAN DISEMINASI HASIL PENELITIAN

FKM NEWS – Lebih dari 60 juta penduduk Indonesia adalah perokok aktif. Jumlah ini terus bertambah dari tahun ke tahun dan menempatkan Indonesia ke peringkat ketiga dengan jumlah perokok aktif tertinggi di dunia.

Memperingati hari Tanpa Tembakau Sedunia 31 Mei 2021 dengan mengusung tema “Commit to Quit”. Research Group Tobacco Control Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga mengadakan workshop dan diseminasi penelitian terkait Tobacco Control.

Workshop dan diseminasi penelitian yang berlangsug secara daring Kamis (17/06/2021) dikemas dalam dialog interaktif bersama para peneliti ahli FKM Unair. Kegiatan itu juga menggandeng para pemangku kebijakan.

Temuan Dr. Arief Hargono, drg., M.Kes menunjukkan sebanyak 90 persen perokok mulai merokok sebelum usia 18 tahun dan pada setiap harinya sekitar 2.100 pemuda menjadi perokok harian. Perokok remaja memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kecanduan terhadap rokok.

“Upaya intervensi perlu dilakukan guna mengatasai permasalahan rokok dikalangan remaja, Model Sistem Aplikasi Upaya Berhenti Merokok (UBM) berbasis mobile ini bisa menjadi salah satu strategi untuk menurunkan risiko akibat merokok”, terang Dr. Arief Hargono, drg., M.Kes., tim Research Group Tobacco Control FKM Unair

Temuan terbaru menunjukkan paparan asap rokok, baik selama masa kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang anak memiliki hubungan dengan adanya risiko stunting, khususnya pada negara dengan pendapatan menengah ke bawah.

“Paparan asap rokok pada saat janin berada dalam kandungan hingga bayi berusia 6 bulan dan disertai kondisi ibu anemia saat kehamilan dimungkinkan dapat menyebabkan efek kombinasi yang berdampak pada terganggunya pertumbuhan bayi” jelas Dr. Siti Rahayu Nadhiroh, S.KM.

Kurnia Dwi Artanti, dr., M.Sc., dalam penelitiannya memaparkan penderita penyakit akibat rokok mengakibatkan beban ekonomi bertambah.  Total biaya yang dikeluarkan untuk 202 orang yang sakit akibat rokok selama 1 tahun adalah sebesar Rp5.349.529.967.

Diharapkan berbagai hasil penelitian dapat menjadi rujukan ilmiah bagi para pemangku kebijakan untuk membuat regulasi pengendalian tembakau yang lebih tegas agar dapat menurunkan prevalensi perokok di Indonesia.

Penulis: Yasmin Nihayatun Nadzifah

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: