Dini Ririn Andrias
Departemen Gizi Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga
Alamat korespondensi :
Email : dien_ra@yahoo.com
PENDAHULUAN
Pemilihan pangan yang tepat merupakan salah satu faktor yang berperan dalam menjaga tubuh tetap sehat. Namun, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan masih cukup tingginya penduduk Indonesia yang sering mengonsumsi pangan berisiko. Secara nasional, prevalensi makanan berisiko yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk berusia > 10 tahun adalah pangan berpenyedap (77,8%), manis (68,1%), berkafein (36,5%) dan asin (24.5%). Pangan manis, asin, berpenyedap dan minuman berkafein pada umumnya banyak terdapat pada pangan kemasan olahan industri. Namun, sebenarnya konsumen dapat membatasi pangan tersebut dan memilih pangan yang sesuai dengan kebutuhannya, jika cermat mengenalinya melalui label pada kemasan pangan. Membiasakan membaca label pangan kemasan merupakan salah satu pesan dalam Pedoman Gizi Seimbang. Label pangan kemasan berisi sekurangkurangnya tujuh informasi, yaitu nama produk, berat bersih atau isi bersih, nama dan alamat pihak yg memproduksi atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia, komposisi atau daftar bahan, keterangan kadaluarsa, nomor pendaftaran, tanggal dan atau kode produksi. Dengan demikian, membaca label dapat membantu konsumen dalam memilih pangan yang aman dan sesuai dengan kebutuhannya. Namun, kebiasaan membaca label pangan belum banyak dilakukan oleh konsumen. Penelitian terdahulu yang dilakukan di negara-negara lain menunjukkan kurang dari separuh responden yang terbiasa membaca label pangan, antara lain di Yunani sebesar 31,3% (Drichoutis dan Lazaridis, 2005), di 6 negara Eropa (Inggris, Swedia, Perancis, Jerman, Polandia dan Hungaria) sebesar 16,8% (Grunert dkk, 2009), di Malaysia (pada mahsiswa) hanya sebesar 21,6% (Nurliyana dkk, 2011), dan di Croatia 19,0% (Ranilovic dan Baric, 2011). Penelitian ini bertujuan mempelajari persepsi dan kebiasaan membaca label pangan kemasan pada mahasiswa.