Bagaimana cara membuat berita kesehatan yang memikat?

Petroc Sumner, Cardiff University dan Rachel Adams, Cardiff University

Berita kesehatan mulai banyak bermunculan. Setiap tahunnya, ada ribuan artikel diterbitkan untuk mengangkat riset terbaru tentang bagaimana kita harus makan, minum, berolahraga, tidur, dan obat apa yang harus atau tidak kita konsumsi.

Banyaknya berita kesehatan tidak hanya mengakibatkan banjir informasi, tapi sering kali berita-berita tersebut bertentangan. Misalnya, laporan tentang penggunaan obat pengurang kadar kolesterol dalam darah (statin) menunjukkan adanya hubungan antara meminumnya akan membuat hidup lebih lama, penuaan dini, mengurangi risiko stroke, dan juga meningkatkan risiko diabetes.

Setiap hari, laporan seperti ini dibaca dan dibagikan oleh jutaan orang dan berpotensi mempengaruhi perilaku kita. Tetapi, bagaimana kita tahu bahwa bukti yang kita dapat dari berita cukup kuat? Dalam mengkomunikasikan temuan mereka, penulis kesehatan perlu menulis secara sederhana agar tidak mengurangi minat orang untuk membaca. Tapi terkadang cara penulisan seperti itu membuat isinya dirasa tidak terlalu relevan bagi mereka atau malah sebaliknya.

Untuk penelitian terbaru kami, kami ingin menemukan cara untuk membantu penulis mengkomunikasikan bukti penelitian kesehatan secara akurat, tanpa harus mengurangi minat pembaca. Untuk melakukan ini, kami bekerja sama dengan sembilan tim hubungan masyarakat (humas) yang bertugas membuat siaran pers di kantor penerbitan jurnal, universitas hingga organisasi penyandang dana, untuk menjalankan uji coba acak terkait siaran pers tentang kesehatan.




Baca juga:
Don’t believe the Daily Express, it takes a lot more than carrots to beat cancer


Kami fokus pada siaran pers karena mereka berperan penting dalam berita sains. Ketika penelitian terbaru dipublikasikan, siaran pers digunakan untuk merangkum hasil studi yang dianggap memiliki “nilai berita”. Siaran pers ini kemudian akan dikirim ke jurnalis yang menggunakan materinya untuk menulis berita.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan ada hubungan yang erat antara konten siaran pers dan artikel berita yang diterbitkan–apalagi waktu yang dimiliki wartawan sangat sedikit, dan mereka dibatasi jumlah kata yang ketat, sehingga tidak selalu dapat membuat berita yang membahas sesuatu secara mendalam.

‘Mungkin’ dan ‘barangkali’

Tujuan pertama dari penelitian kami adalah untuk meningkatkan keselarasan antara berita dengan bukti yang mendasarinya dengan memperhatikan kata-kata dalam siaran pers. Dalam kelompok yang kami intervensi selama penelitian, kami menggunakan bahasa yang sering digunakan, seperti “penyebab”, “mempengaruhi” dan “meningkatkan”, untuk bukti kausal yang kuat dari percobaan.

Dalam riset observasional, sebab dan akibat sulit ditentukan karena variabel-variabel yang tidak terkontrol. Misalnya, adanya hubungan antara penjualan es krim dan konsumsi air–bukan karena yang satu menyebabkan yang lain, tetapi karena keduanya meningkat pada cuaca yang cerah.

Jadi untuk jenis penelitian ini, kami memilih bahasa yang lebih lemah, seperti “dapat menyebabkan”, dan “dapat mempengaruhi”, dalam rilisnya. Perbedaan ini tidak hanya mudah dipahami oleh mereka yang mengetahui konvensi, tetapi juga sangat berarti bagi semua pembaca terlepas mereka pernah atau belum mendengar soal konsep-konsep seperti korelasi atau uji klinis.

Wartawan menggunakan siaran pers untuk membuat berita setiap harinya.
GaudiLab/Shutterstock

Kami menemukan bahwa kuatnya pembuatan klaim dalam siaran pers umumnya menentukan pemuatannya dalam berita. Dan tidak ada efek yang merugikan jika cerita yang dijadikan berita menggunakan bahasa yang lunak. Apakah siaran pers digunakan atau tidak, tidak bergantung pada kekuatan klaim sebab akibat. Ketika klaim dalam siaran pers lebih lunak, mereka umumnya lebih lunak dalam berita–meskipun ada keyakinan bahwa media tidak tertarik pada hal yang “mungkin” dan “barangkali”.




Baca juga:
From medical treatment to diet and lifestyle choice: how to spot unreliable health research


Tujuan kedua dari penelitian kami adalah untuk memastikan bahwa cerita-cerita yang disertakan memiliki keterbatasan–seperti “penelitian adalah hasil pengamatan dan tidak dapat menunjukkan sebab dan akibat”. Hasil kami menunjukkan bahwa peringatan ini lebih cenderung muncul dalam berita ketika mereka hadir dalam siaran pers.

Misalnya sebuah cerita tentang hubungan kesehatan hati dan merokok yang diterbitkan di MailOnline, menggunakan kutipan dari siaran pers untuk menyatakan, “Dr. Brown menekankan ini adalah penelitian dari hasil pengamatan dan tidak dapat menentukan apakah berhenti merokok menyebabkan berkurangnya minum atau sebaliknya”. Peringatan itu tampaknya tidak mengurangi penyerapan berita, dan bahkan dikaitkan dengan lebih banyak liputan berita. Hal ini menunjukkan peringatan tidak mengurangi minat para pembaca inilah hasil yang sesuai dengan penelitian lainnya.

Sebagian besar temuan ini didasarkan pada analisis pengamatan, dan walaupun kami tidak dapat menunjukkan efek langsung dari konten siaran pers pada berita, kami tahu bahwa wartawan membaca siaran pers sebelum menulis berita. Kami juga tidak dapat menunjukkan bagaimana konten berita tersebut akan mempengaruhi kesehatan masyarakat. Tetapi temuan kami menunjukkan bahwa mungkin ada cara sederhana untuk mengkomunikasikan berita kesehatan kepada publik tanpa mempengaruhi penyerapan kontennya.

Kesimpulan yang menunjukkan adanya sebab akibat hanyalah salah satu elemen yang memperkuat bukti kesehatan, tetapi ada banyak elemen lain yang dapat (dan harus) dikomunikasikan kepada pembaca. Misalnya, temuan dari studi lebih besar yang diulang dalam periode waktu yang lama akan lebih kuat daripada temuan dari studi tunggal yang kecil. Meskipun reportase tentang bukti riset kesehatan di media hanya satu faktor yang mendorong orang membuat keputusan terkait kesehatan mereka, kami percaya bahwa menyediakan berita yang lebih mudah diterjemahkan adalah sebuah langkah yang tepat.

Amira Swastika menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.The Conversation

Petroc Sumner, Professor and Head of School, School of Psychology, Cardiff University dan Rachel Adams, Research Associate in Cognition and Neurostimulation, Cardiff University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.