Penyakit Rabies Masih Menjadi Perhatian Utama Dunia

28 September 2019 momentum kampanya global memperingati Hari Rabies Sedunia. Menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat, tepatnya merupakan penyakit zoonosis yang menyerang sistem saraf pusat, sehingga dapat menyebabkan kematian pada manusia dengan CFR (Case Fatality Ratei) 100%.

Peringatan Hari Rabies Sedunia dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pencegahan dan pengendalian penyakit rabies. Hari Rabies Sedunia mulai diselenggarakan pada tahun 2007. Secara umum, pelaksanaan Hari Rabies Sedunia dilakukan dengan sosialiasi kepada masyarakat dan vaksinasi rabies terhadap hewan, terutama anjing. Tujuan yang ingin dicapai oleh kampanye ini adalah menjadikan dunia bebas dari penyakit rabies pada tahun 2030.

Penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Lysavirus family Rhabdovirus ini dapat menyerang ke semua species mamalia termasuk manusia. Penularan infeksi dapat melalui kontak air liur dengan membran mukosa atau melalui luka, serta dapat melalui gigitan atau cakaran dari hewan tertular rabies.

Menjadi perhatian nasional bahkan internasional, rabies merupakan salah satu perhatian utama pada sektor kesehatan masyarakat di beberapa negara Asia. Penyakit tersebut bersifat endemis di Indonesia yang menyerang 24 dari 33 propinsi yang ada, dan rata-rata setiap tahun terdapat 150-300 kasus kematian manusia akibat rabies.

Guna pemberantasan kasus tersebut, pemerintah melakukan upaya pencegahan dan pengendalian, termasuk vaksinasi anjing secara massal, surveilans, depopulasi anjing liar, dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Adapun terdapat tiga tahapan yang dapat dilakukan dalam pencegahan penyakit rabies, yakni pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Pencegahan primer yaitu pencegahan awal dengan cara menghindari atau mengatasi faktor-faktor risiko. Kemudian pencegaan sekunder, yaitu mendeteksi dini dan melakukan pertolongan pertama yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko tertularnya rabies. Dan terakhir pencegahan tersier, yaitu tindakan klinis yang bertujuan mencegah kerusakan lebih lanjut atau mengurangi komplikasi setelah penyakit tersebut diketahui

Penulis : Ulfah Mu’amarotul H

EnglishIndonesian
%d blogger menyukai ini: