Mengulik Penyakit Anemia dan Cara Menghindarinya Bersama Pakar Gizi FKM Unair

0

FKM NEWS – Angka anemia pada remaja putri di Indonesia masih cukup tinggi. Menurut data Riskesdas tahun 2013 terdapat 37,1% kasus anemia dan meningkat menjadi 48,9% pada tahun 2018. Qonita Rachmah, S.Gz., M.Sc., dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menjelaskan bahwa menjaga tubuh agar bebas anemia merupakan hal yang penting khususnya pada kelompok rentan seperti remaja dan ibu hamil. Remaja merupakan kunci dari siklus kehidupan. Ketika remaja putri bebas dari anemia maka ketika hamil nanti ibu tidak mengalami anemia dan bayinya pun bebas dari anemia. Maka dari itu tema Hari Gizi Nasional tahun ini yaitu Remaja Sehat, Bebas Anemia.

Namun, tidak hanya remaja dan ibu hamil saja yang harus bebas dari anemia, semua kelompok umur harus bebas dari anemia. Pada setiap kelompok umur memiliki dampak negatif masing-masing dari penyakit anemia tersebut. Kondisi anemia ini dapat dibilang hidden hunger atau defisiensi zat gizi mikro yang tidak terasa. Jadi, tidak terlihat kalau mengalami kekurangan zat besi. Padahal dampaknya bisa sangat serius.

“Pada balita yang mengalami anemia bisa menganggu proses pertumbuhan dan perkembangan, gagal tumbuh dan stunting. Pada anak sekolah bisa mengalami kurang konsentrasi sehingga bisa menurunkan prestasi akademik di sekolah. Lalu, pada ibu hamil yang kurang konsumsi zat besi bisa menganggu perkembangan janin sehingga bayi bisa mengalami Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). BBLR ini dapat meningkatkan risiko stunting lebih besar,” jelas Qonita melalui pesan WhatApp saat diwawancarai oleh tim FKM NEWS pada Kamis (28/01/2021).

Qonita Rachmah, S.Gz., M.Sc., Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair)
Qonita Rachmah, S.Gz., M.Sc., Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair)

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan anemia, namun kekurangan zat besi merupakan penyebab umumnya. Penyebab kekurangan zat besi ini berbeda-beda sesuai dengan kelompok usianya.

“Misalnya, pada bayi bisa terjadi karena pendarahan. Pada balita bisa terjadi karena balita susah makan, kurang mengkonsumsi sumber protein hewani yang banyak mengandung zat besi, mengalami cacingan atau infeksi lain. Pada anak bisa terjadi karena diet yang salah, menstruasi dan suka minum kopi atau teh dan pada ibu hamil terjadi karena asupan tidak adekuat karena kebutuhan zat besi meningkat untuk transfer ke janin,” ungkap Qonita.

Qonita menyebutkan beberapa hal agar dapat bebas dari penyakit anemia, antara lain yaitu harus memperhatikan pola diet dan bergizi seimbang. Protein hewani wajib ada setiap kali makan tiga kali sehari. Pada bahan makanan nabati yang mengandung zat besi yaitu sayuran hijau dan kacang-kacangan. Namun, tingkat penyerapannya lebih bagus pada protein hewani dari pada protein nabati. Selain itu, sebaiknya menghindari makanan yang menghambat penyerapan zat besi seperti kafein, tanin, oksalat, fitat yang terdapat dalam produk kacang kedelai, teh dan kopi. Jadi, ketika makan lebih baik untuk minum es jeruk atau jus jambu yang kaya akan vitamin C karena dapat membantu penyerapan zat besi.

Kemudian, mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) terutama pada kelompok rentan yaitu remaja dan ibu hamil. Qonita mengungkapkan bahwa meskipun sudah ada program dari pemerintah untuk konsumsi TTD namun kendalanya yaitu masyarakat enggan untuk meminumnya.

“Mengkonsumsi zat besi memang ada efeknya seperti mual dan rasanya memang tidak enak. Sehingga, TTD lebih baik dikonsumsi pada malam hari setelah makan dan ketika akan tidur karena kita sudah dalam keadaan kenyang. Jadi, tidak mempengaruhi asupan dan tidak terasa mualnya” pungkas Qonita.

Penulis: Vina Himmatus Sholikhah